![]() |
| Perselisihan Proyek Berujung Pembunuhan |
Hujan turun tipis di Desa Karangjati. Lampu-lampu jalan berkelip redup ketika seorang pemuda bernama Arga berlari menuju jembatan tua di pinggir sungai.
Di tengah jembatan, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Seorang pria tergeletak tak bergerak.
"Ya Tuhan..." bisik Arga.
Tubuh itu adalah Pak Surya, pemilik toko bangunan yang cukup terkenal di desa. Di dekatnya terdapat payung hitam dan sebuah jam tangan yang pecah.
Arga segera menghubungi polisi.
Keesokan paginya, suasana desa gempar.
Di kantor polisi, Inspektur Dimas mulai memeriksa para saksi.
"Siapa yang terakhir melihat korban hidup?" tanya Dimas.
Seorang perempuan muda mengangkat tangan.
"Saya, Pak. Sekitar pukul delapan malam. Pak Surya masih berada di warung kopi."
"Apakah beliau bersama seseorang?"
Perempuan itu berpikir sejenak.
"Ya. Sepertinya bersama Pak Rudi."
Pak Rudi adalah rekan bisnis korban.
Siang itu, Dimas mendatangi rumah Pak Rudi.
"Selamat siang, Pak Rudi."
"Silakan masuk, Pak Inspektur."
"Kami sedang menyelidiki kematian Pak Surya."
Wajah Pak Rudi tampak tegang.
"Saya juga kaget mendengarnya."
"Menurut saksi, Anda bertemu korban semalam."
"Benar. Kami hanya membicarakan proyek bangunan."
"Apakah terjadi pertengkaran?"
"Tidak."
Dimas memperhatikan tangan Pak Rudi yang sedikit gemetar.
"Di mana Anda setelah meninggalkan warung?"
"Saya langsung pulang."
"Adakah yang bisa membuktikannya?"
Pak Rudi terdiam.
Penyelidikan berlanjut.
Dimas menemukan fakta bahwa korban dan Pak Rudi sedang berselisih mengenai pembagian keuntungan proyek.
Di sisi lain, seorang pegawai toko bernama Beni memberikan informasi baru.
"Malam itu saya mendengar mereka bertengkar."
"Di mana?" tanya Dimas.
"Di belakang warung kopi."
"Apa yang mereka katakan?"
Beni menelan ludah.
"Saya dengar Pak Surya berkata, 'Kalau kau terus berbohong, semuanya akan kubongkar.'"
Malam berikutnya, Dimas memeriksa rekaman CCTV dari sebuah minimarket dekat jembatan.
Rekaman menunjukkan Pak Surya berjalan menuju jembatan pukul 20.45.
Beberapa menit kemudian, seseorang dengan jas hujan gelap mengikuti dari belakang.
Meski wajahnya tidak terlihat jelas, ada satu hal yang menarik perhatian Dimas.
Orang itu pincang pada kaki kirinya.
Keesokan harinya Dimas kembali menemui Pak Rudi.
Ia sengaja memperhatikan cara pria itu berjalan.
Ternyata Pak Rudi memang sedikit pincang.
"Pak Rudi," kata Dimas pelan.
"Ada apa?"
"Kami menemukan rekaman CCTV."
Wajah Pak Rudi mendadak pucat.
"Saya tidak mengerti."
"Orang yang mengikuti korban memiliki cara berjalan yang sama seperti Anda."
"Itu belum membuktikan apa-apa!"
"Tentu. Tapi kami juga menemukan sidik jari Anda pada payung yang berada di lokasi."
Pak Rudi terdiam.
"Katakan yang sebenarnya."
Suasana ruangan menjadi hening.
Akhirnya Pak Rudi menundukkan kepala.
"Saya tidak berniat membunuhnya..."
Dimas menatapnya tajam.
"Lanjutkan."
"Malam itu kami bertemu di jembatan. Surya mengancam akan melaporkan penggelapan uang yang saya lakukan."
"Jadi Anda marah?"
"Saya panik."
Pak Rudi mulai menangis.
"Kami bertengkar. Saya mendorongnya."
"Dan?"
"Saya kira dia akan berhenti di pagar jembatan."
"Tetapi?"
"Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam besi pembatas."
Pak Rudi menutup wajahnya.
"Saya takut. Saya meninggalkannya begitu saja."
Dimas menghela napas panjang.
"Ketakutan sering membuat orang melakukan kesalahan yang lebih besar."
Pak Rudi hanya tertunduk.
Dua petugas kemudian membawanya keluar ruangan.
Saat melewati koridor, ia berbisik pelan,
"Andai malam itu saya memilih berkata jujur..."
Hujan kembali turun ketika kasus penyelidikan yang dilakukan polisi menganggap pelaku dan penyebab kematian telah terungkap.
Dimas berdiri di jembatan tua tempat semuanya bermula.
Di bawah cahaya lampu yang temaram, sungai mengalir tenang seolah menyimpan rahasia malam itu.
Namun satu hal pasti.
Kebenaran mungkin bisa disembunyikan untuk sementara, tetapi jarang bisa disembunyikan selamanya.
Tamat.

0 Komentar